[ FF ] Nothing On You – Chapter 6 A –

Anyeong Adaya Back With NOY

Miane reader yang budiman, mulannya saya mau buat satu lembar tapi sangat panjang. Jadi saya bagi dua. Karena ada pembelotan ending dari chap aslinya, chapter 6 ini yang rencananya 10 paragraf jadi 17 paragraf. Jadi saya bagi dua ya. Miane. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan kritik dan saran yang membangun.

poster 2

Title              : Nothing On You

Author          : Adaya Muminah Aljabar ( oe09@live.com )

Main Cast     : Choi Sooyoung dan Choi Siwon ( Soowon Couple )

Other Cast    :

  • Cho Kyuhyun –> Cho Kyuhyun
  • Shim Chang Min –> Cho Changmin –> Max Changmin 
  • Hwang Tifanny –> Tifanny 
  • Victoria Song –> Victoria Choi

Type            : Chapter

Genre          : Romance, Sad Ending , Family

Rating          : PG-18 ( All reader who Open mind )

Disclaimer : This story is inspired by Mars Drama, S. Kenyon Dark-Hunter Series, Mars and Fruit Basket Manga. Hope you like it guys. Not for to copy and Please don’t be plagiator!

Chapter – 6 A – 

People seem weak, but they’re strong.
They seem strong, but they’re weak.
No matter how much you cry, you still have to sleep. 
And you even get hungry.
You suddenly realize you’re doing the same things you did yesterday. 
You say hi to your friends and smile just like you did yesterday.
Life goes on as if nothing ever happened…

I want to go somewhere…
Anywhere…
Somewhere where I can forget everything.
…where I’ll forget everything
…and be reborn.

― Fuyumi Soryo , Mars Manga Vol 18

**************************************

Author POV-

2012

SOOYOUNG melayang-layang antara sadar dan tidak. Segalanya diliputi kabut gelap. Dia hampir tak mampu merasakan bagian tubuhnya yang lain. Matanya yang terpejam memberikan gambaran bayangan. Bayangan-bayangan dari masa lalu. Suara-suara menggantung di telingannya, antara kengerian dan kepedihan yang membaur menjadi mimpi buruk. Tubuhnya terbaring lemas di atas ubin basah yang terasa seperti bongkahan es. Sooyoung merasa udara pengap masuk ke dalam paru-parunya saat dia mencoba menghirup udara bertabur debu itu dengan hidungnya. Sooyoung terbatuk perlahan saat merasakan tetesan air dari cerobong ventilasi yang sudah berkarat. Sooyoung mencoba sekuat tenaga untuk membuka matanya yang terasa berat. Pengaruh amonia yang digunakan untuk membiusnya masih mengambil alih sarafnya yang lemah. Dengan gerakan sangat pelan, Sooyoung mencoba menjangkau perutnya yang membuncit lembut. Dia bersyukur dalam hati bahwa dia masih di sana, masih bersamanya.

” Hai, Adik kecil. Bagaimana tidur siangmu? Nyenyak?” Suara Victoria menggaung di ruangan gelap itu. Sooyoung membuka matanya sedikit lebih lebar untuk melihat seringai kejam yang ada di bibir Victoria.

“Dimana aku?” Sooyoung mencoba bertanya, tapi kepalanya berdenyut menyakitkan saat dia menggerakkan bibirnya.

” Cih. Seharusnya kau menanyakan hal yang lebih berbobot dibanding dengan dialog picisan yang selalu ada dalam drama murahan itu. Bukankah seharusnya kau bertannya ‘ Apa yang akan kau lakukan padaku?’. Karena aku tak suka berbasa-basi.”

Sooyoung mengernyit saat merasa ketegangan dari tulang punggungnya. Dia sudah merasakan perasaan itu selama dua bulan terakhir. Efek kehamilan. Sooyoung mencoba menenangkan janin yang ada di perutnya. ” Kenapa unnie? Kenapa kau melakukan ini.”

Victoria beranjak dari tempatnya, dia melangkah ke arah Sooyoung yang terbaring di lantai gudang kosong itu. Terlihat begitu lemah dan menyedihkan. Setitik kepuasan terpancar di mata Victoria saat memperhatikan musuhnya tergeletak tak berdaya. Victoria adalah jenis orang yang menyimpan hidangan inti di akhir, dia selalu menyiksa perlahan dan melihat musuhnya memohon, dia tak ingin membunuh Sooyoung sebelum dia memastikan jiwa musuhnya hancur berkeping-keping. ” Kenapa? Kenapa lagi menurutmu? Karena aku mampu, Soo. Karena aku mau. Dan karena aku membencimu.”

Sooyoung masih tak bisa mencerna perkataan Victoria, saat pengaruh amonia itu melumerkan pikiranya. Dia terdiam di sana, memandang Victoria yang menikmati kesakitannya. ” Kenapa?” ulang Sooyoung dengan suara lirihnya.

” Karena kau hidup. Karena kau tersenyum. Dan karena kau mengira kau berharga.” Victoria mendengus saat memikirkan senyum Sooyoung yang selalu menyiksa hari-harinya. ” Karena kau memanggilku unnie dengan wajahmu yang munafik.”

Sooyoung tahu ada alasan di balik semua itu. Dibalik kebencian dalam suara Victoria, Sooyoung bisa merasakan kepahitan yang mampu ditutupi dengan begitu baik oleh wanita cantik di hadapannya. ” Kau bukan orang seperti itu, Unnie…”

“Oh! Maaf, tapi aku memang seperti ini, Dik. Aku membunuh kedua orangtuaku dan mengirim mereka ke neraka dengan tanganku sendiri. Kau kira kenapa aku tak bisa melakukanya pada orang yang mengambil tempatku selama ini?” Victoria menghembuskan nafasnya secara berlebihan hanya untuk mengejek Sooyoung yang terkejut mendengarnya. ” Takperlu berlebihan, Dik. Itu bukan bagian terburuknya. Aku melakukan semuanya. Membunuh kakek kita, mengajak Kyuhyun mengunjungi neraka, dan menjauhkan suami bodohmu darimu. Semua ulahku, Soo. Dan kau takperlu berterimakasih karena kebaikanku.” Ejek Victoria. ” Kau tahu? Aku sangat menikmatinya, mengambil satu persatu milikmu. Mengirim mereka ke tempat yang tak terjangkau. Dan sebentar lagi aku akan memberimu kesenangan untuk kembali berkumpul bersama mereka. Bukankan aku wanita yang penuh kasih?”

Sooyoung mengernyit lagi saat mendengar nada bangga dari perkataan Victoria. Nada bangga yang palsu. Sooyoung merasakan lagi. Ketegangan yang merayap melalui tulang belakangnya hingga ke pusat tubuhnya. Perutnya berkedut pelan mengirim gelombang yang membuat Sooyoung mengernyit semakin dalam. Sooyoung mengelus perutnya dari balik blus katunnya. Tenang sayang. Tenang.

Victoria memandang curiga ke arah wajah Sooyoung, kemudia beralih ke perutnya. Kedua tangan Sooyoung merangkul perutnya dengan protektif seakan melindungi sesuatu yang tak terlihat oleh Victoria. Dengan sentakan kasar Victoria menarik tangan dingin Sooyoung menjauh, mereka bergulat untuk seperkian detik hingga Victoria menyibak blus itu dengan keras. “Bingo. Kau hamil?” tanya Victoria saat melihat perut Sooyoung yang membulat lembut. Victoria tertawa dengan puas saat ada sosok pria bertubuh tinggi memasuki gudang itu dan melangkah ke arah dirinya. ” Tebak J. Apa yang kutemukan? Kita mendapat jackpot. Tak hanya satu nyawa, tapi dua. Bersyukurlah pada Tuhan yang selalu memberi kita kepuasan. “

Lelaki bernama J itu tersenyum lirih ke arah Victoria. ” Itu hukuman bagi anak nakal yang menjauhkanku dari Kyuhyun. Dia akan menikmati saat-saat kita membelah perutnya dan mencabik janinnya. Bukankah begitu, Soo. Ini balasanmu. Balasan karena merebut Kyuhyun tersayang dari tanganku.” Victoria dan J tertawa bersama.

Suara tawa dua orang di hadapannya membuat kepala Sooyoung berdenging. Dengan gerakan pelan dia kembali meletakkan tangannya melingkari perutnya, seolah itu bisa melindungi bayinya. Tuhan. Lindungi bayiku. Ujar Sooyoung dalam hati sebelum kembali dalam rengkuhan pengaruh amonia yang memusingkan.

*****************************

Changmin mengumpat lirih saat tak mendapat jawaban dari orang yang dihubunginya. “Dimana kau Choi Sooyoung?”

Changmin memutar lagi perkataan asistennya yang ditugaskan untuk membuntuti Victoria. Changmin ingin mengetahui segalanya. Detail rencana yang akan dilakukan oleh wanita itu. Dia tak ingin meninggalkan Victoria sendirian dan merencanakan hal-hal gila yang terbayang di pikiran Changmin selama ini. Wanita itu tega membunuh dan menghancurkan apapun yang menghalangi langkahnya. Dan laporan yang ditulis Jaejoong cukup membuktikan dugaan Changmin benar. Semua incarannya selalu berakhir dalam kematian. Kyuhyun. Tuan Choi. Teman sekamarnya. Kedua orangtuannya. Victoria tak akan membiarkan mangsanya kabur dan menikmati hidup. Dia hanya akan membiarkannya hidup hanya untuk melihatnya tersiksa di dunia, kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Seperti Kyuhyun.

“Sial. ” Changmin mengumpat sekali lagi saat mendengar suara mesin penjawab telepon. ” Dimana kau, Soo?” Changmin menekan nomor yang sama untuk kesekian kalinya sebelum menyerah. Dia tak ingin terlambat. Tapi dia harus mencari bantuan. Jaejoong sedang mencoba melacak keberadaan Victoria saat ini. Asisten yang berhasil menguping pembicaraan Victoria dengan lelaki bernama J itu memberi tahu masalah gudang tua dan pabrik lama. Jaejoong berpendapat kemungkinan tempat itu adalah pabrik Song-Group yang sudah tak difungsionalkan lagi. Tapi saat ini yang terpenting adalah memberi peringatan pada Sooyoung.

Changmin mendesah pelan dan membanting stirnya ke samping jalan. Untuk yang terakhir kalinya dia mencoba menghubungi Sooyoung. Dan nihil. Changmin memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya, dia tak ingin wanita itu terluka. Wanita yang dulu sempat dibencinya sebelum mengetahui fakta tentang Kyuhyun. Ini adalah balas budinya bagi wanita itu. Dia tak akan membiarkan Choi Sooyoung terluka. Demi apapun, Changmin akan rela menerjang neraka agar bisa melindunginya. Demi Kyuhyun.

Sekali lagi Changmin menekan nomor di ponselnya, berusaha untuk menghubungi seseorang. Dan dia bernafas lega saat dering pertama lelaki itu mengangkat panggilannya. “Istrimu dalam bahaya.” Bisik Changmin lirih.

******************************

Choi Siwon sedang duduk diantara orang-orang yang sedang berbicara masalah perkembangan perusahaan saat pikirannya melayang ke sesuatu yang sama sekali berbeda. Baru setengah jam yang lalu dia mendengar suara istrinya, tapi desakan untuk mendengar suara Sooyoung kembali menggaung di telinganya.

Siwon tak mampu berkosentrasi saat sekretaris pribadinya menanyakan prihal produk baru yang akan diluncurkan bersama sekutu baru mereka dari Italia. Siwon hanya ingin mendengarkan suara Sooyoung saat ini. Ada desakan yang tak tertahankan untuk segera berlari dari ruang rapat dan menemui Sooyoung yang berada di gedung paling bawah. Mereka berada dalam satu gedung tapi Siwon merasa begitu merindukan istrinya. “Maafkan aku.” Siwon tersenyum pada Signor Montelagi Botalini yang memandangnya dengan maklum. ” Istriku sedang hamil dan pikiranku selalu tertuju padanya. Dia sedikit keras kepala dan ceroboh.”

“Aku mengerti perasaanmu, Tuan Choi. Aku rasa kau ingin mendengar suaranya. Aku mempersilahkanmu untuk meredakan kecemasanmu. Aku tak ingin berbisnis dengan pria yang pikirannya bercabang.”

Siwon tersenyum lirih, sebelum beranjak dari tempatnya. Dia berdiri terlalu cepat hingga tak sengaja menyenggol gelas kristal yang ada di hadapannya. ” Ya Tuhan.” Sekretaris Siwon menghampirinya dan mencoba membantu Siwon yang merunduk memungut pecahan kaca di kakinya. Dan dering ponsel itu membuat Siwon terlonjak kaget. Dia tak pernah seperti itu. Begitu waspada dan was-was, sebuah perasaan yang membuatnya bersiaga menghadapi bencana. Dadanya terasa berdegup saat melihat nomor yang tak dikenal di layar ponselnya. ” Yaboseyo.” Kata Siwon waspada.

” Istrimu dalam bahaya.”

Suara itu. Perasaan dingin langsung merayapi tubuh Siwon saat mendengar suara serak dari lelaki di sebrang sana. Tanpa sadar Siwon mencengkram keras pecahan kaca yang masih ada di sebelah tangannya. ” Tuan, kau berdarah.”

Siwon memandang linglung pada sekretarisnya kemudian ke tangannya. Dia masih tak mampu mencernannya sampai lelaki itu mengulangi perkataanya. ” Sooyoung dalam bahaya.”

“Ya Tuhan.”

**********************

2006

“Aku Cho Kyuhyun.”

“Aku tahu. Kau adalah laki-laki paling aneh di kelas.”

Senyum itu. Senyum hangat yang selalu membuat hatiku merasakan keindahan yang hampir kulupakan. Hari ini. Tepat di hadapannya aku merasa semua impianku menjadi nyata. Ada yang tumbuh dalam hatiku yang kosong. Senyum Choi Sooyoung membuat hatiku terhanyut. Dia adalah orang pertama dalam hidupku yang bisa membuatku tenang dan percaya. Meski faktanya aku tak akan mampu memberi apapun baginya. Aku tak mampu membalas segala yang diberikannya, tapi aku bisa memberi kesetiaanku padanya. Aku tak akan pernah meninggalkannya sebelum dia menyuruhku pergi darinya.

“Mari berteman ….”

Mungkin dia adalah jawaban dari semua doa-doaku pada Tuhan. Mungkin inilah penyejuk jiwa yang akan selalu membuatku mampu bertahan di tengah kegilaan. Choi Sooyoung, sampai kapanpun aku tak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan melakukan apapun untukmu, termasuk mengorbankan nyawaku. Hanya satu yang tak akan pernah kuberikan padamu. Cinta. 

**********************

Kyuhyun berjalan gontai saat kenangan pertemuan pertamannya dengan Sooyoung tergambar di otaknya. Dia seperti orang gila dua minggu ini. Dia merasa segalanya salah dan tak pada tempatnya. Dia sudah berhenti untuk memaksakan diri menghindari Sooyoung selama dua hari terakhir. Sooyoung terlihat begitu sedih saat pertemuan terakhir mereka di persimpangan jalan. Sooyoung terlihat begitu dingin dan pucat. Seharusnya Kyuhyun ada di samping Sooyoung, untuk menghiburnya.

Kyuhyun mengutuk dirinya sendiri karena tak mampu menepati janji yang pernah diikrarkan dalam hatinya saat pertama kali mereka berbicara sebagai teman. Kyuhyun takut, dia takut Sooyoung akan membencinya karena mengetahui diri Kyuhyun yang sebenarnya. Tapi berjauhan dengan Sooyoung sama buruknya dengan kenyataan jati dirinya. Dia memang bukan remaja normal pada umumnya. Dia manusia kotor yang mencoba hidup seakan semuanya berjalan pada tempatnya. Dia mencoba karena Sooyoung. Dia mencoba karena ingin merasa kebahagiaan yang selalu dibagi Sooyoung dengannya. Jika bisa, dia ingin memutar balik segalannya. Dia tak ingin bertemu dengan Sooyoung, dia tak ingin melihat gadis itu bersedih untuknya. Lebih baik begitu, segalanya akan lebih mudah, bahkan kematian akan lebih indah daripada penderitaan yang harus dia tanggung karena perasaan ini.

Sooyoung mencintainya. Dan Kyuhyun tahu. Tapi Kyuhyun lebih tahu, rasa kasih Sooyoung selembut kasih ibu. Bukan kasih seorang wanita pada pria. Dia tahu Sooyoung mencintainya karena terbiasa, bukan karena debar bahagia yang dirasakan seorang yang sedang kepalang jatuh cinta. Yang lebih menakutkan dari semua itu, Sooyoung mencintainya karena kasihan padanya. Tapi semua itu tak masalah bagi Kyuhyun, bagaimana Soo mencintainya, apa alasan Soo menyayanginya. Karena dia hanya tahu satu jawaban, hatinya tak akan bisa menerima semuanya. Dan itu sangat menyiksa. Kebaikan hati Sooyoung tak mungkin dia balas dengan penolakan yang kejam. Tapi Kyuhyun terpaksa, dia tak ingin Sooyoung berharap banyak akan sesuatu yang tak mungkin dapat diberikan olehnya. Dia orang aneh, dia bukan manusia normal, dan itu membuatnya jijik.

Kyuhyun berhenti di sebuah gerbang tinggi yang memisahkan dirinya dengan Sooyoung. Malam ini hujan turun dengan lebat, Kyuhyun tak perduli. Dia hanya ingin satu hal. Mengatakan kebenaranya pada Sooyoung. Siapa dan Apa dirinya. Dia tak ingin membuat segalanya berlarut lebih lama. Setidaknya dia akan memberikan keputusan akhirnya pada Sooyoung. Lebih baik begitu, Sooyoung meninggalkannya karena jijik dengan keadaan Kyuhyun dibanding dengan jarak kasat mata yang membuat Sooyoung terluka.

Tepat saat Kyuhyun akan menekan intercome, suara lembut Sooyoung memanggil dari balik punggungnya. Dia ada di sana, mengenakan mantel kulit yang menjuntai hingga di atas sepatu bot kulitnya. Dia terlihat begitu kedinginan karena angin yang menerpa wajahnya. Ujung rambutnya terlihat basah saat bulir hujan menghantam bumi semakin deras. “Soo….” Bisik Kyuhyun saat memperhatikan Sooyoung memandangnya dengan pancaran mata nanar.

Mereka bertatapan cukup lama, hingga Sooyoung tak sadar pegangan pada payungnya mengendur dan membuatnya basah karena derasnya hujan. “Aku ….” Sooyoung mencoba mengucapkan sesuatu, tapi perih di perutnya membuatnya tertahan. Dia tak tahu apa tujuan Kyuhyun datang kemari menemuinya setelah lebih dari sebulan menghindarinya seperti wabah. Tapi apapun itu Sooyoung merasa ini adalah kesempatan baginya untuk mengungkapkan semua keluh kesahnya. “Aku… Surat cinta yang kutulis untukmu adalah surat cinta pertama yang pernah kutulis untuk seorang lelaki. Dalam hidupku selama 17 tahun, untuk pertama kalinya, aku benar-benar mencintai seseorang. Aku mencintaimu Cho Kyuhyun. Mencintaimu ….” Ujar Sooyoung dengan nada bergetar.

Kyuhyun tak mampu menahan perasaanya, dia bisa merasakan kepedihan dalam suara Sooyoung. Tapi hatinya semakin pedih, karena dia harus menguatkan hati untuk menjelaskan segalanya. ” Miane, Soo. Miane. Aku tak bisa …” Sooyoung hendak meraihnya tapi Kyuhyun mundur selangkah. Dia tak akan bisa menjelaskannya jika mereka dalam jarak berdekatan. ” Aku tak bisa. Aku akan memberikan segalanya bagimu, tapi bukan, bukan ini. Cinta? aku tak mampu, Soo.”

Sooyoung memandang tak percaya pada Kyuhyun. “Lalu kenapa kau ada di sini? Mengejekku? Kau berengsek Cho Kyuhyun.”

Ya. Aku memang berengsek, Soo. ” Aku ingin menjelaskan padamu, Soo. Alasanku…”

” Tak perlu. Aku sudah cukup dengan penolakanmu.” Geram Sooyoung disela isak tangisnya.

“Aku mohon kau boleh membunuhku. Tapi dengarkan aku, Soo. Aku tak ingin kau menjauh dariku.”

Sooyoung mendelik pada Kyuhyun. Bagaimana lelaki itu bisa begitu egois padanya. Dia ingin tetap di samping Sooyoung, tapi tak mau menerima cintanya. “Aku bukan yoyo yang bisa kau putar semaumu. Aku tak menginginkan nyawamu, aku hanya mau hatimu. Jiwamu, Oppa….” Rintih Sooyoung dengan nada putus asa.

Kyuhyun tertunduk di hadapannya saat Sooyoung berlalu dan menekan tombol intercome agar pelayan membukakan gerbang pintu rumahnya. ” Aku aku ……… ” tepat saat Kyuhyun bicara sebuah truck barang besar lewat di samping mereka, meredam suara Kyuhyun. Tapi Sooyoung mendengarnya, pengakuan itu. Kebenaran itu. Sooyoung gemetar untuk sesaat karena kenyataan yang tak bisa diterima otaknya. Dia berputar perlahan ke arah Kyuhyun yang sudah begitu putus asa. Dia sangat pucat, bibirnya sudah berubah ungu karena dinginnya air hujan. ” Kau sudah tahu. Itulah diriku, Soo. Aku bahkan tak pantas menyentuh sisa makananmu.” Bisik Kyuhyun perlahan.

” Kau bohong. Itu tidak mungkin….”

” Aku menjijikkan, Soo. Aku tak seperti dugaanmu. Aku bukan orang suci. Aku menjijikkan, Soo. Menjijikkan.”

Sooyoung menyandarkan punggungnya di dinding saat Kyuhyun menjelaskan semua detailnya. Dia tak ingin mendengar mimpi buruk itu, dia tak ingin tahu semuanya. Dia merasakan tikaman di dalam hatinya. Kyuhyun sangat tersiksa karena kenyataan itu. Dia tahu sekarang kenapa Kyuhyun begitu pendiam, kenapa dia begitu misterius, kenapa dia sangat jarang tersenyum.

“Kau sudah tahu segalanya. Aku menyerahkan segalanya padamu. Kau berhak menilaiku, Soo. Hanya satu permintaanku, hiduplah dengan bahagia dengan lelaki yang mencintaimu.”

Sooyoung melihat Kyuhyun berlalu, meninggalkannya meraung menangisi Kyuhyun, Kyuhyunnya.

**********************

2012

Sooyoung tersadar saat merasa guyuran air dingin di kepalanya. Dia mencoba menarik oksigen ke paru-parunya yang terasa sesak. Sooyoung menggapai-gapai saat guyuran kedua membasahi seluruh tubuhnya. Victoria tersenyum memandang Sooyoung yang terlihat begitu pucat.

“Bagaimana rasannya, Dik. Bagaimana rasannya saat kau mengetahui bahwa kematian ada di depan matamu?”

Sooyoung terbatuk kecil saat merasa kontraksi pada perutnya. Sooyoung membuka bibirnya perlahan. Selama seharian ini Sooyoung terus pingsan dan kembali dibangunkan dengan guyuran air dingin yang bau oleh Victoria. Setiap kali dia membuka matanya Victoria akan menyiksannya dengan perkataan kejam dan detail-detail penyiksaan yang akan dilakukan padanya. Dia bercerita bagaimana dia mengirim Kyuhyun pada J, dan merubah Kyuhyun sama seperti dirinya. Dia menceritakan detail bagaimana dia memaksa Kyuhyun mengakhiri hidupnya. Victoria tak puas saat Sooyoung selalu memandangnya dengan iba. Dia tak suka dikasihani. Dan dia tak akan pernah sudi menerima belas kasihan dari orang yang akan dihancurkannya.

Sooyoung sudah begitu pucat. Pelipisnya membiru dan darah keluar dari bibirnya. Dia merasa pening saat J menghantamkan benda keras ke kepalannya. Lelaki itu menyiksanya dengan brutal. Dia meninju perut Sooyoung dengan keras hingga Sooyoung menjerit pilu saat merasakan ada darah mengalir di selangkangannya. Sooyoung menangis. Dia menahan tendangan J dengan kedua tangannya, tubuhnya menggelung seperti bola. Dia tak peduli tubuhnya remuk, tapi dia ingin melindungi janinnya. Dia harus bertahan.

” Unnie….” Sooyoung terbatuk lagi saat mencoba berucap. ” Kenapa..Kenapa kita tak mengulang segalannya dari awal…” Sooyoung menghela nafanya dengan berat. Dia sudah mencapai ujung kekuatannya untuk berbicara. Dia merasa kesulitan mengucapkan tiap kata dari bibirnya yang terasa nyeri. Tapi Sooyoung masih bisa tersenyum lembut saat memandang Victoria.

“Apa kau gila? Bagaimana kau bisa tersenyum seperti itu saat ini?” geram Victoria dari balik bibirnya yang terkatub marah.

Uhuk.. uhuk…,” Sooyoung mencoba menguatkan dirinya. Dia tak ingin melihat Victoria seperti itu, dia ingin melakukan sesuatu untuk wanita di hadapannya. Wanita dengan jiwa gadis kecil yang menjerit pilu. “Aku menyayangimu unnie, aku menyayangimu. Tak peduli apapun yang terjadi. Aku merasa kasihan padamu unnie, kau menginginkan segalannya tapi berakhir tanpa apapun. Aku ingin menujukkan padamu unnie bahwa aku bisa memberimu lebih dengan semua ini, aku tak akan membencimu unnie aku memilih tak membencimu. “

Victoria menjerit frustasi. Lagi. Dan Lagi. Dengan cepat dia meraih belati yang ada di sakunya. Dia menerjang Sooyoung yang terduduk lemas di hadapannya. Sooyoung mencoba untuk berdiri, tapi Victoria menendangnya dengan kakinya yang bersepatu. ” Aku tak butuh belas kasihmu.” Jerit Victoria seraya menikamkan belatinya di perut Sooyoung. Dia berhenti sesaat untuk merasakan desahan nafas Sooyoung yang memburu.  Sooyoung kesakitan. Dan Victoria senang dengan hal itu. Senyum jahat kembali di bibirnya. ” Maaf? Awal yang baru? Apa kau bercanda denganku, Soo.” Geram Victoria seraya menghujam belatinya semakin dalam ke perut Sooyoung.

Sooyoung merintih perlahan. Dia terbatuk. Darah keluar bersama ludahnya yang terasa asin. ” Unnie…” Bisik Sooyoung seraya mengulurkan tangannya untuk menyentuh Victoria. Tapi saat itu juga Victoria menarik belatinya dengan kasar. ” Miane. Ayo kembali bersama….”

Victoria semakin terbakar amarah saat Sooyoung tak menghentikan ocehannya tentang rasa kasih dan pemaafan. “Diam.Diam.Diam.” Victoria menghujam perut Sooyoung berkali kali, seiring dengan jeritan kesalnya. “ Kita lihat apa kau masih bisa memaafkanku setelah ini. Itupun jika kau mampu melalui kematian ini, Soo.” Victoria menarik lagi belatinya. Dia tertawa kaku. Matanya melebar menakutkan, bibirnya menekuk ke samping, tapi itu bukan tawa puas atau gembira. Lebih seperti tertekan dan tersiksa. ”Setelah ini satu persatu orang yang kau cintai akan kuhancurkan, kau kira aku akan membiarkanmu bebas?. Walau kau sudah aku beri keringanan dengan kematian, akan kubiarkan nyawamu tak tenang karena kecemasan.”

Sooyoung terengah. Tangannya dirangkulkan ke perutnya yang mati rasa. Anaknya. Dia sadar akan janinya. Tapi dia tak bisa menangis saat ini. Dia harus berperang. Berperang dengan takdir dan kebencian. ” Unnie, aku sangat menyayangimu. Aku..” Sooyoung terbatuk sekali lagi. ” Aku …aku percaya dalam hatimu ada kebaikan yang tersisa…”

“DIAM!” Jerit Victoria seraya menghunuskan belatinya sekali lagi. Lebih keras. Lebih dalam hingga dia bisa merasakan daging Sooyoung yang terkoyak di balik blus katunnya. Victoria melihat tangannya yang berlumuran darah. Dia tersenyum lagi. Senyum kaku yang sama, sebelum menghirupnya dengan penghargaan yang tinggi. Darah dari musuh besarnya. Kemenangannya.

Darah mengalir dari perut Sooyoung. Begitu bannyak sehingga menggenangi tubuhnya dengan cairan merah itu. Dia terbatuk dan bernafas pendek-pendek. Victoria mundur selangkah saat melihat mata Sooyoung meredup. Dia berteriak memanggil J yang berjaga di pintu gerbang. “ Siapkan mobil. Kita akan membiarkan dia membusuk di sini.”

J memandang Sooyoung yang tergeletak tak berdaya. Dia tersenyum kecut sebelum menjawab Victoria. “ Kau tak menyiksakan sedikit kesenangan bagiku, ya?”

Victoria mendelik padannya. “Jika kau terlalu banyak bicara, kau akan segera menyusulnya.”

J meringis tanpa rasa bersalah sebelum berlalu meninggalkan Victoria dan Sooyoung.

“Kau tahu? Walau aku akan kembali ke penjara karena ini. Walau aku terbakar di neraka karena kejahatanku, aku selalu merasa Tuhan membantuku. Dia selalu melancarkan segalanya, memberiku kepuasan. Dan walau pada akhirnya aku membusuk di neraka, setidaknya aku memastika kau juga ada di sana.”  Victoria meraih ponsel yang ada di sakunya. Senyumnya melebar dengan kejam saat menjatuhkan ponsel itu ke kakinya. “Tapi aku akan menikmatinya. Pacuan ardenalin ini. Kau ku beri kesempatan untuk meminta tolong, Adik kecil. Aku ingin melihat saat suara terakhirmu di dengar oleh suami bodohmu. Dia pasti senang mendengarmu untuk yang terakhir kalinya.” Victoria tertawa dan meninggalkan Sooyoung yang terluka. Dia menutup gerbang di pabrik tua Song-Group itu dan menguncinya dari luar.

Sooyoung melihat ponsel itu. Dia ingin meraihnya tapi kepalanya berputar dan sekali lagi dia masuk ke dalam pusaran kegelapan.

****************************

Sooyoung sedang bersiap-siap untuk tidur. Saat dia menangkap tulisan tangan yang sangat dia kenali berada dalam kotak hadiah yang dia siapkan untuk calon bayinya.

Kerutan kecil terbentuk di dahi Sooyoung saat membuka surat itu dengan perlahan. Pada kertas putih berbau harum itu berjajar gambar-gambar tangan bunga Sweet Pea ungu yang dibuat dari potongan lembut beludru tebal. Jantung Sooyoung berdegup cepat saat membaca tulisan tangan rapi milik suaminya.

Anakku tersayang,

Sudah berminggu-minggu aku melihat eommamu mengumpulkan berbagai barang untuk memenuhi kotak yang akan dihadiahkan padamu kelak. Dia begitu bersemangat dan cantik, Nak. Ah…dan sedikit menyusahkan, tapi appa sangat suka direpotkan oleh eommamu yang menawan. Dia sangat takut jika dia tak cukup baik untuk menjadi seorang ibu. Tapi aku selalu merasa dia akan menjadi ibu yang sangat hebat untukmu. Dia selalu tersenyum gembira saat merasakan kau semakin tumbuh besar di dalam perutnya. Setiap pagi dia akan berkaca dan mengukur pertumbuhan perutnya. Dia membuatku tersenyum saat mengeluh kau tumbuh terlalu lama. Dia takut, hanya takut kalau ada yang salah dengannya. Tapi aku tahu dia selalu menantimu dengan sabar. Dia selalu berbicara denganmu tentang semua hal yang bahkan belum pernah diceritakannya padaku. Dan matanya selalu berbinar bahagia ketika dia berbicara denganmu. Dia selalu berujar bahwa dia mencintaimu dengan sepenuh hatinya. Kata yang juga sangat ingin aku dengar.

Ibumu sangat menyayangimu, Nak. Sama seperti aku yang akan memberikan segalannya untuk kalian berdua. Tapi terkadang aku sedikit meragukan hatiku, terkadang aku merasa dia mencintai orang lain lebih dibanding dia mencintaiku. Tapi aku tahu itu hanya pikiran bodoh dari seorang lelaki yang cemburu melihat istrinya berbicara pada perutnya?. Aku hanya bercanda, Sayang.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Lelaki ataupun perempuan, aku akan mencintaimu dengan sepenuh hati. Aku hanya berharap kau lebih mirip ibumu dibanding aku. Dia wanita dengan hati yang lembut. Dia begitu baik, hingga mau memaafkan kebodohanku dimasa lalu. Dia wanita yang sangat cerdas yang akan berceloteh banyak soal buku-buku yan dibacanya. Dia wanita dengan kesabaran seorang dewi. Dia tak menyimpan kesalahan orang lain, dia tersenyum dengan tulus, dan menanggung bebannya dengan anggun. Walau dia sering menangis karena takdir yang menyesakkan, dia mampu melaluinya dan bertahan.

Yang paling penting, dia adalah wanita dengan cadangan kasih yang tinggi. Kau tak akan pernah merasa kekurangan cinta saat dibuaiannya, Nak. Aku harap kau tumbuh dengan cepat dan sehat. Aku berharap kau mau menjaga ibumu saat aku harus jauh darinya. Aku harap kau menguatkannya sama seperti dia menguatkanmu. Kau adalah anugerah, Nak. Bukti bahwa keajaiban ada di dunia.

Dengan penuh kasih,

Appamu yang mengharapkan kedatanganmu dengan hati berdegup senang,

Choi Siwon.

 Sooyoung melipat surat itu kembali dan meletakkan pada tempatnya. Air matanya menggenang di pelupuk matanya. “Aku sangat mencintaimu Cho Siwon, sangat mencintaimu.” Dia mengelus lembut perutnya yang membuncit. “ Dan benar, Nak. Kau adalah anugerah bagi kami.”

****************************

Sooyoung terbangun dalam kegelapan dan kesakitan di sekujur tubuhnya. Tubuhnya terasa berantakan dan perih di beberapa bagian. Dia merasakan seluruh tulangnya remuk dan tak lagi tersambung satu dengan yang lain. Sooyoung mengernyit saat mencoba bergerak. Darahnya yang mengering membuatnya semakin susah untuk bernafas. Lukanya masih menganga di perutnya, saat itu Sooyoung sadar. Bahwa ada yang hilang dari dirinya. Dia seperti kehilangan separuh jiwannya saat menggerakkan tangannya yang sakit ke perutnya yang masih sedikit basah oleh darah. Darahnya dan darah janinnya. Anak yang bahkan belum dilihat wujudnya. Sooyoung menangis perlahan saat menyadari dia kehilangan buah kasihnya. Keajaiban yang dikirim Tuhan padannya. Anaknya yang masih berusia dua setengah bulan. Janin yang selalu diajaknya bicara. Sooyoung sudah hampir putus asa untuk hidup, dia tak mampu menahan kekecewaan dalam hatinya saat ini. Walau berusaha untuk tabah, tapi dia tak memungkiri saat pertama selalu sulit.

Sooyoung bisa merasakan aura dari negri lain yang jauh dan tak terjangkau terbentang di hadapannya. Dia sudah ditunggu untuk masuk ke sana. Wajah-wajah asing yang ingin menyambutnya dalam rengkuhan kematian. Sooyoung terbatuk pelan saat mencoba mengelak dari semua itu. Dia belum menyelesaikan tugasnya. Dia belum menyatakan perasaannya yang sebenarnya pada Siwon. Dia belum menyatakan bahawa dia mencintai lelaki itu lebih dari hidupnya. Seakan ada angin yang membawa kekuatan dalam dirinya, Sooyoung mencoba merangkak ke arah ponsel yang masih tergeletak tak jauh darinya. Tapi usaha Sooyoung membunuh jarak pendek itu sangat berat. Gerakan sekecil apapun membuatnya perih dan kesakitan. Dia membulatkan tekadnya, dengan sebelah tangannya Sooyoung menancapkan kuku-kuku panjangnya ke ubin berlumut di bawahnya. Dia mendorong perlahan tubuhnya untuk menggerakkan pinggulnya yang mati rasa. Sooyoung terengah. Dia terbatuk lagi dan itu membuat luka di perutnya semakin melebar.Sooyoung meringis saat tetesan air dari ventilasi berkarat yang berjajar di atasnya mengenai lukannya. Tapi Sooyoung tak menyerah, dia akan melakukan segalannya, dia tak akan menyerah, waktunya tak banyak lagi.

Sooyoung semakin dekat ke arah ponsel itu. Dia meraihnya dengan kekuatan terakhir yang dimilikinnya. Bibirnya terkatup rapat saat menekan nomor yang sudah dihafalnya dengan jemarinya yang bergetar. Aku mohon. Aku mohon. Angkatlah. Sooyoung menunggu, pada dering kedua suara yang sangat dirindukannya menjawab perlahan. “Oppa….”

****************************

Siwon tertegun di tempatnya. Dia sedang gusar dan mengamuk di dalam kantor kepolisian saat ponselnya berdering. Rasa frustasi karena kehilangan Sooyoung membuatnya gila. Changmin ada di sana juga bersama Jaejoong yang mulai melacak dengan sia-sia keberadaan Victoria. Siwon mengumpat sampai dering itu kembali terdengar. Dia melihat panggilan tanpa nama di layar ponselnya. Lagi. Seperti ada secercah harapan Siwon mengangkat ponselnya.

“Oppa…”

Suara itu. Siwon ingin menangis saat mendengar suara Sooyoung di sebrang sana. Dia merapat ke arah Changmin dan Jaejoong. “Soo. Soo. Apa kau baik-baik saja? Kau ada di mana, Soo. Katakan. Katakan padaku, lass.”

Siwon mendengar suara tawa renyah bercampur kesakitan dari sebrang sana. Hatinya seperti tertikam saat mendengar desah nafas Sooyoung yang lemah. “Apa yang terjadi? Soo…”

Sooyoung terbatuk dengan keras. Dia tak menjawab untuk beberapa saat hingga dia mampu menggerakkan bibirnya lagi. ” Oppa..aku tidak punya banyak waktu, aku mohon hanya dengarkan aku …..” Sooyoung kembali terengah. Siwon mengerut perih saat mendengar tarikan nafas Sooyoung yang tajam. ” Miane…Miane…Aku tak bisa melindungi bayi..kita..”

Lutut Siwon lemas, dia terduduk di tempatnya. Dia tahu itu bukan bagian terburuknya. Dia tak sadar sejak kapan tepatnya air mata sudah muncul di pipinya. Dia mendengar Sooyoung lagi. Dia ingin berkata banyak hal dengan istrinya, tapi lidahnya kelu tak mampu berucap. Dia mendengar Sooyoung merintih kesakitan, tapi tak mampu berbuat apapun. Gambaran-gambaran menakutkan di kepalannya membuat Siwon memucat. Dan akhirnya kata itu terucap. “Aku mencintaimu, Oppa….Sangat mencintaimu…Aku berterimakasih pada Tuhan. Aku tak menyesalinya. Aku sangat mencintaimu Choi Siwon. ” Siwon menangis lebih keras. Dia seperti orang bodoh saat ini, menangis di tengah orang yang mengamatinya dengan seksama.

” Tidak. Jangan mengucapkannya seolah kau akan pergi meninggalkanku. “

Siwon sekali lagi mendengar isak tertahan pada suara Sooyoung. Siwon tahu Sooyoung sedang menangis saat ini. “Miane..Miane, Oppa. Aku …aku mencintaimu.”

Dan ….

“Soo? Soo?” Siwon menepis rasa takutnya dan memanggil-manggil istrinya berkali kali. Nihil. Tak ada jawaban. Siwon tak mendengar apapun. Bahkan nafas lemah yang menandakan tanda-tanda kehidupan dari istrinya. ” Ani..Ani…Tidak mungkin. Soo? Jawab aku, lass! Soo!” Jerit Siwon untuk yang terakhir kalinya.

Changmin meraih ponsel dari tangan Siwon saat melihat nomor Victoria yang tertera di sana. “Kau bisa melacak panggilan dengan GPS, bukan?” kata Changmin pada salah satu petugas kepolisian yang sedang berdiri di depannya.

“Tentu. “

“Lacak panggilan ini. Sooyoung belum mematikan panggilannya.” Polisi itu meraih ponsel Siwon sebelum pergi pada rekannya yang berada di depan komputer.

” Aku akan mencarinya. Aku akan menemukannya, dalam keadaan hidup. Aku tak akan kehilangannya. Walau aku harus memporak-porandakan neraka, aku akan membawanya kembali padaku.” Bisik Siwon tertahan, saat kemarahan menggantikan kepedihannya.

Sooyoung tak boleh meninggalkannya. Dia tak akan membiarkan hal itu terjadi. Karena Siwon tahu satu hal, jika Sooyoung pergi dari dunia ini, dia lebih baik menyusulnya.

*************************

Sooyoung bernafas sangat lemah saat menyadari kepalanya sudah tak lagi berada di atas ubin dingin yang berlumut. Dia ada di dalam ruangan terang yang sangat familiar dalam ingatannya. Suara-suara gaduh menggaung bercampur dengan kepanikan saat berbagai macam alat ditempelkan di tubuhnya.

“Detak jantungnya melemah.” Kata salah seorang dari mereka. Seorang lelaki tinggi yang sangat dikenal Sooyoung mencoba memeriksa tekanan nadi Sooyoung yang hampir tak terasa. Dia berdecak perlahan sebelum menyuntukkan satu cairan ke tangan Sooyoung.

” Bagaimana dengan janinya. ” Suara itu membelah pikiran Sooyoung. Dia ingin menangis. Dia tak ingin mendengarnya.

“Saya rasa dia sudah tak tertolong lagi.”

Sooyoung terisak dalam hati. Maafkan aku, Nak. Maafkan eomma. Tunggu eomma…aku akan segera menyusulmu ….

************************

-TBC-

[TEASER NEXT PART /END]

” Aku belum mengatakan aku mencintaimu, Aku belum membalasnya Soo. Aku tak akan bisa hidup tanpamu. Bangunlah, lass. Aku membutuhkanmu. Anak kita…anak kita telah kembali ke sisinya, bagaimna aku sanggup menghadapinya jika kau juga pergi dari sisiku, Soo. Kau tak boleh pergi aku tak akan mengizinkannya ,,,, bangunlah Soo. Aku bahkan belum membalas bahwa aku juga mencintaimu.”- Siwon.

Oke selamat membaca, maaf jika ada taypo dan aneh dan kepanjangan dan alay :)

Don’t Be SHIDER please !

Iklan

7 thoughts on “[ FF ] Nothing On You – Chapter 6 A –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s